Memilih atau Dipilih Masuk SMA 70?

[alumnisma70.com]: Banyak jalan menuju Roma. Begitu juga, banyak jalan menuju Bulungan. Khususnya untuk menempuh ilmu di “komplek” Jl. Bulungan Blok C. No. 1, Kebayora Baru, Jakarta Selatan.

Begitu kira-kira, gambaran alasan banyaknya alumni kana hujut hulup nangulub yang kemudian merasa bangga menjadi almamater salah satu sekolah terfavorit di Kawasan selatan Jakarta ini.

Atas (ki-ka): Luky, Gusjaw, Bintang, Darson, Triyuda (Tuta) | Bawah (ki-ka): Bembi, Cokky, Arief, Mamai, Neea

Penulis sendiri, memilih masuk ke SMA 70 lantaran direkomendasi oleh kakak yang justru sudah masuk lebih dulu ke SMA 6 Mahakam. “Kamu pilih SMA 70 aja. Jangan di SMA 6. Disini cowok-cowoknya banyak yang ‘anak mami’,” begitu kakak gue membujuk.

Kami sekeluarga berempat – dua cewek dan cowok—yang tinggal di Jl. RS Fatmawati, Jakarta Selatan, alhamdulillah bisa masuk sekolah negeri semua. Dan sama-sama berasal dari SMP negeri yang sama, 68 Cipete Selatan.

Namun, SMA kami berbeda-beda. Kakak pertama cewek (lahir 1965), dapat SMA 34 Pondok Labu. Kakak kedua cewek (lahir 1966), masuk di SMA 6 Mahakam. Dan saya (anak ketiga cowok, lahir 1967) diterima di SMA 70 Bulungan, dan yang bontot cowok (lahir 1971) masuk SMA 27 Ciputat.

Bokap yang seorang Polisi, tidak pernah mendikte anak-anaknya untuk memilih sekolah yang ia inginkan. “Terserah kalian semua mau sekolah dimana, yang penting negeri. Karena kalau di swasta, gaji polisi seperti bapak, pasti nggak sanggup bayarnya,” begitu kata almarhum bokap.

Pertanyaannya, kenapa kakak yang di SMA 6 justru meminta saya masuk SMA 70? Ya selain karena anak-anak cowok di sekolahnya saat itu tergolong ’anak mami’, ternyata juga agar saya sebagai anak cowok paling besar di keluarga, “punya nyali dan bisa kreatif kalau belajar di SMA 70,” jelasnya.

Tentang citra anak cowok SMA 6 saat itu tergolong ‘anak mami’ tersebut, pun dibenarkan Bembi Amri Hisar Amrizal 70_82.

“Benar bingiiitz tuuch. Maaf bingiiitz ya, bukan gue jelek-jelekin tetangga sebelah. Emang faktanya begitu,” ungkap Bembi.

Menurutnya, ia bersama teman-temen cowok di SMP 12, sudah punya gambaran untuk melanjutkan sekolah SMA saat itu. Ini “rating” SMA berdasarkan pilihan Bembi:

1. PENGUDI LUHUR (PL). Ini sekolah bagi yang rajin dan pinter. Punya IQ diatas 124. Dan harus serius dan rajin bingiiitz belajarnya.

2 . SMA NEGERI 6. Bagi yang rajin/pinter dan serius belajar, tetapi anti becanda.

3 . SMA NEGERI 70. Bagi yang rajin/pinter, serius belajar, dan suka becanda.

4 . SMA NEGERI 46. Bagi yang agak males belajar dan tukang becanda.

***

‘70 Sekolah Serem’

Lain halnya dengan Bintang Mia 70_92, yang lulus SMP pada 1989. Ia awalnya justru menilai SMA 6 sebagai ‘sekolah artis’. Dan memandang SMA 70 sebagai ‘sekolah preman’, yang suka berantem, full bully dan “keras banget” didikannya dari para seniornya.

“Awalnya gue nggak milih 70. Pilihan pertama SMA 6. Bahkan saat terima ‘kartu kuning’ tanda diterima di SMA70, gue sempet stress!” ujarnya serius.

Tetapi image itu akhirnya sirna setelah satu bulan belajar di SMA 70. “Selanjutnya, sampai dengan detik ini, gue begitu bangga dan merasa beruntung banget jadi bagian dari Keluarga Besar SMA70 Bulungan, Jakarta,” jelas Bintang, yang kini mendapat jodoh dari anak 70 juga.   

Soal kesan 70 sebagai ‘sekolah menyeramkan’, juga dialami Darso Onodha “Military 70_86”. “Waktu gue diantar bokap daftar di 70, bokap gue bilang, ngapain milih sekolah yang mau ambruk dan jendelanya banyak yang nggak ada kacanya…?!” kisah Darson.

Tapi sekarang bangga nggak jadi alumnus 70 nangulub? “Bangga sama nongkrongnya, wkwkwk…” lanjutnya. Yang penting bangga ya Oom…

***

Hampir serupa dengan penulis, Triyudha Ratulangie Ichwan 70_82, pun besekolah di SMA 70 lantaran terpengaruh pilihan kakak-kakaknya. “Kalo gue ngikut abang dan mpok gue. Masuk TK, SD dan SMP, ngikutin mpok. Masuk SMA ngikutin abang yang sekolah di SMA 11_81,” ujar admin FBG Alumni 70 ini.

Berbeda dengan Arief 70_87, yang mengaku prosesnya masuk ke SMA 70, terasa “kurang greget”. “Masuk SMA 70 Bulungan menurut saya kurang greget. Karena saya dari SMP Negeri sekitar situ juga,” katanya.

Kendati begitu, Arief yang semasa SD sekolah di madrasah, memang dari awal sudah niat untuk lanjut ke SMA 70 Bulungan. “70 pilihan pertama. Kalo nggak di 70, saya nggak mau,” tambahnya, yang diterima masuk 70 dengan ranking 250an dari 800an siswa yang lolos pada 1984.

Boleh joget…! Eh, boleh juga anak madrasah ibtidaiyah ini…

Serupa dengan Arief dan Triyudha Ratulangie, Cokky Soetadi pun menempatakan SMA 70 sebagai pilihan pertama setelah lulus SMP 12. “70 jadi pilihan pertama gue. Karena biar sama dengan kakak sulung gue, yang sekolah di SMA 11,” tuturnya.

Tetapi  seperti biasa, lanjut Cokky, sempat ada campur tangan orangtua yang “ngomporin” supaya ia pilih SMA 6 sebagai pilihan pertama. “Karena kakak-kakak gue yang cowok, alumni SMA 6 semua,” jelasnya.

“Diajaklah gue keliling SMA 6 sama kakak gue and gank-nya. Tapi akhirnya, toh gue masuknya ke 70 juga,” tambahnya bangga.

Untung Cokky tak jadi masuk SMA 6. “Karena terlalu bising. Ini pengalaman waktu tes UMPTN, dapet tempat ujiannya di SMA 6. Walau pun gue nggak lolos juga di Universitas Negeri,” imbuhnya.

Pilih 70 Karena “Merasa Dekat”

Luky Ramasari 70_88 berbeda dengan Cokky, yang milih masuk SMA 70 lantaran sekolah ini mudah dijangkau dengan kendaraan umum. Walau lumayan jauh juga kediaman Luky dari kawasan Kebayoran Baru. “Gue naek metro mini S74, karena rumah di Rempoa, Bintaro,” jelas anak Teater 70, yang merasa rumahnya dahulu berada “di ujung Jakarat Selatan, tempat para jin berunding”.

Sebagai aktivis Gelanggang Remaja Bulungan selepas dari SMA 70, Luky menilai lingkungan SMA 70 di Jl. Bulungan sangat kondusif buat remaja Jakarta tumbuh. “Karena dekat dengan Gelanggang Remaja. Hebat ya, produk mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Dia bikin pusat-pusat kegiatan remaja,” tambah ibu yang tetap giat melatih teater anak-anak.

Mamai Haris 70_82 pun tak kalah jauh rumahnya dengan Luky. Malah lebih jauh, berada di kawasan Ciputat, yang kini masuk wilayah kabupaten Tangerang Selatan.

Menurut Mamai, dahulu di awal 1980an ia memilih SMA 9 Bulungan –sekarang SMA 70–. Karena sekolah itu masuk rayon di wilayah pilihan SMP-nya.  

“Karena nilaiku lumayan bagus, maka aku diterima disana. Padahal rumahku jauh banget di Ciputat. Tapi sampe juga tuh ke Bulungan,” kenang Mamai.

Tidak ada capek atau lelah kalau mau berangkat kesana, lanjutnya, “padahal jauuuuhhh… maceeettt… Apalagi kalau naik bis Ciputat-Blok M. Tetapi, alhamdulillah dapat aku lalui tanpa rintangan,” tutur Mamai.

“Aku bangga jadi jebolan SMA 70 Bulungan, walau sekarang sudah jadi Nenek dari 3 orang Cucu… Ahaaayyy…!!!” katanya yakin.

Yang paling ngocol, ungkapan Neea Rachma 70_95. Cewek Batak-Sunda yang sekolah ke 70 Bulungan hanya tinggal jalan kaki dari Jl. Hang Jebat, Kebayoran Baru ini. Dengan pedenya ia berkata: ”Maaf, gue nggak milih 70. Gue-nya yang dipilih 70 buat jadi muridnya!!!”

Boleh Jojon… Eh, boleh juga gaya anak Teater 70 yang jago nyanyi ini Bah…!!!

***

Dirangkum Gusjaw Soelarto 70_87 | dari FBG Alumni SMA 70 Kakarta

Sketsa Miko Adham 70_86 | Foto-foto Dok. Pribadi

Bagikan :

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn
mood_bad
  • Komentar tidak diijinkan
  • Post Terkait

    Post Terkait